Total Pageviews

Saturday, 10 January 2015

Sajak: Unggas Yang Kaku

Unggas Yang Kaku



Sang Unggas kau kaku di situ,
Kau miliki sayap yang lebar,
mengibas dikala kau berada di awan tinggi,

Sesekali kau tumpas jatuh mengadap bumi,

Sang Angin menghembus dikau untuk ketemu aku,

Kau seperti tidak berdaya,
Kaku di celah-celah dedaun menghijau,
Mata kau terpejam,
Tapi ku tahu kau masih bernafas,

Sang Unggas kau kecil ditelapak tanah,
Ingatan di minda "Kau bisa terbang lagi",
Ku biar kau kaku di situ, 
Selang minit bersilih minit,
Mentari menegak kini sinarnya beralih ke ufuk senja,

Aku lalui lagi lorong itu,
Lorong yang sama tak akan pernah tersalah arah,
Lorong yang ada semangat dan cinta anugerah Rabb Yang Esa.
Lorong yang kulukiskan cetusan jiwa memelihara jati diri,
Lorong yang mengusik hati yang berbelah bagi 'menyelamatkan kau',
Ingatan di minda kini, "(kosong)",
Pipit sudah terbaring kaku menyembah bumi,
Keras, tiada lagi imbasan nadi tubuhmu kelihatan,
Tipulah hati, tipulah tanpa kesedihan,
Tipulah akal, membohongi ketelusan hati,
Bohonglah mata, tipu lah kalau tak berkelip memandang engkau.

Sang Unggas kini tanah membaluti kau,
Ku tahu kau kecil, tapi kau sememangnya kuat,
Ku tahu kau perlukan bantuan tika itu,
Salahku kerna biarkan masa memamah dan membawa kau pergi,
Aku tak mampu mengimbas saat kau semput di rumput nan hijau,
Semput di hadapan lorong-lorong ehsan,
Seperti meraih simpati yang tidak dipeduli,
Kau kini telah pergi,

Sang Unggas hadirmu suatu pengajaran,
analogi kehidupan yang mahal tanpa nilai susut,
Senantiasa menggunung harga diri dan pengorbananmu,
Kerana kau telah hadirkan warna-warna hati dalam hidupku,
Jangan pernah ada hati yang berniat membantu tetapi terus menangguh bakti,
Jangan pernah ada jiwa suci mencari kebaikan menangguh menyebarkan kebersamaan,
Unggas datang dan pergi,
Unggas terbang ditemani kenangan semalam,
Akhirnya tersebarnya cinta dalam hembusan bayu 
yang menusuk sum-sum ingatan.
Ikhlas,

Raihana Tomoko a.k.a NSB


No comments:

Post a Comment